Cina dan Ambisi BRICS: Sistem Pembayaran Baru Menantang Dominasi Dolar AS

Cina dan Ambisi BRICS: Sistem Pembayaran Baru Menantang Dominasi Dolar AS

Jumat, 04 Juli 2025, Juli 04, 2025

 

Foto:vistorbelitung

VISTORBELITUNG.COM,Washington D.C. – Di tengah lanskap ekonomi global yang terus bergeser, Cina, bersama dengan negara-negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan), secara agresif mendorong pengembangan sistem pembayaran alternatif yang berpotensi mengancam dominasi dolar AS. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi Barat dan membangun tatanan ekonomi yang lebih multipolar.


Wacana mengenai sistem pembayaran baru dalam kerangka BRICS, sering disebut sebagai "BRICS Pay" atau platform aset digital untuk penyelesaian lintas batas, telah mendapatkan perhatian signifikan. Ide utamanya adalah memungkinkan negara-negara BRICS untuk berdagang satu sama lain menggunakan mata uang nasional mereka, memotong kebutuhan untuk mengandalkan dolar AS dan sistem perpesanan keuangan SWIFT yang dikendalikan AS.


Pendorong utama di balik inisiatif ini adalah keinginan untuk mitigasi risiko. Washington telah semakin sering menggunakan dolar AS dan sistem keuangannya sebagai instrumen tekanan geopolitik, termasuk sanksi terhadap negara-negara seperti Rusia. Hal ini memicu kekhawatiran di antara banyak negara, terutama di Global South, tentang kerentanan mereka terhadap volatilitas kebijakan AS dan potensi "persenjataan" dolar.


Meskipun Cina secara terbuka mendorong penggunaan Renminbi (Yuan) dalam perdagangan internasional, tujuan BRICS tampaknya lebih luas dari sekadar mengganti dominasi dolar dengan Yuan. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem perdagangan, pembayaran, dan keuangan alternatif yang dapat beroperasi paralel dengan sistem berbasis dolar, bukan untuk sepenuhnya menggantikannya. Ini adalah upaya untuk membangun "diversitas sejati" dalam sistem keuangan global.


Beberapa inisiatif kunci dalam strategi dedolarisasi Cina melalui BRICS meliputi Adanya Pengembangan New Development Bank (NDB) Bank ini berfungsi untuk memobilisasi sumber daya bagi proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara BRICS dan negara berkembang lainnya, mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan Barat.


Perjanjian Swap Mata Uang Bilateral Memungkinkan pertukaran mata uang lokal untuk memfasilitasi perdagangan bilateral tanpa melibatkan dolar AS.


Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) Sistem pembayaran Cina sendiri yang bertujuan untuk memfasilitasi transaksi Renminbi lintas batas, sebagai alternatif dari SWIFT.


Eksplorasi Teknologi Blockchain dan Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) BRICS sedang menjajaki penggunaan teknologi ini untuk menciptakan platform penyelesaian keuangan yang lebih efisien dan terdesentralisasi.


Meski demikian, jalan menuju dedolarisasi sepenuhnya tidaklah mudah. Dolar AS masih memegang posisi dominan sebagai mata uang cadangan dan alat tukar global. Tantangan termasuk kebutuhan akan stabilitas, likuiditas, kedalaman pasar, dan supremasi hukum yang kuat untuk mata uang alternatif. Selain itu, belum semua anggota BRICS sepenuhnya sepakat dengan agenda dedolarisasi yang dipimpin oleh Rusia dan Cina.


Namun, dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara BRICS yang terus berlanjut yang kini mewakili sekitar 45% populasi dunia dan 35% PDB global berdasarkan paritas daya beli serta masuknya negara-negara penghasil minyak ke dalam blok tersebut, upaya kolektif ini memiliki potensi untuk secara signifikan membentuk kembali arsitektur keuangan global di masa depan. Meskipun ancaman terhadap dolar AS mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, komitmen Cina dan BRICS untuk menciptakan alternatif terhadap sistem yang ada jelas terlihat.


TerPopuler