Menu MBG Ikan Teri, Nasi, dan Kuah Sup Tapi Buahnya Tidak Ada: Siswa di Bima, NTB Keluhkan Makanan Jauh dari Kata Gizi

Menu MBG Ikan Teri, Nasi, dan Kuah Sup Tapi Buahnya Tidak Ada: Siswa di Bima, NTB Keluhkan Makanan Jauh dari Kata Gizi

Kamis, 22 Januari 2026, Januari 22, 2026
Foto:Salah satu Sekolah di NTB



VISTORBELITUNG.COM,Bima, NTB – Program pemerintah untuk meningkatkan gizi dan mendorong kehadiran siswa di sekolah melalui penyediaan makanan tambahan atau yang dikenal sebagai Makanan Bergizi dan Beragam (MBG), menuai keluhan di sejumlah sekolah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menu yang didominasi nasi, ikan teri, dan kuah sayur bening tanpa buah, dinilai jauh dari prinsip gizi seimbang yang diharapkan.


Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan pengalamannya. "Hampir setiap hari hampir sama, nasi banyak, ikan teri sedikit, sama kuah sayur asam, Buahnya jarang sekali ada. Rasanya sudah bosan dan kurang mengenyangkan," ujarnya. Keluhan serupa juga disampaikan oleh sejumlah orang tua yang merasa asupan gizi anaknya di sekolah tidak terpenuhi dengan baik. Dibagikan oleh akun firman.mbojo/tiktok


Menu yang disajikan kerap berupa:


· Nasi putih dalam porsi besar sebagai komponen utama.


· Ikan teri goreng atau tumis dalam jumlah yang sangat terbatas, biasanya hanya sebagai lauk pendamping.


· Kuah sup atau sayur sup dengan potongan sayur minimalis, lebih menyerupai air berwarna daripada kuah berisi sayuran.


· Buah, yang seharusnya menjadi bagian penting, seringkali absen dari kotak makanan.


Ahli gizi setempat, dr. Siti Aminah, M.Gizi, menyoroti masalah ini. "Prinsip gizi seimbang menekankan keberagaman pangan. Menu yang monoton, tinggi karbohidrat, rendah protein hewani, serat, dan vitamin dari sayur serta buah, tidak akan mencapai tujuan perbaikan gizi. Ikan teri memang sumber kalsium, tetapi porsinya harus memadai dan perlu didampingi sumber protein lain. Sayur dan buah bukanlah pelengkap, tapi komponen wajib untuk vitamin, mineral, dan serat," jelasnya.


Kekurangan asupan gizi yang beragam dan seimbang berpotensi memengaruhi konsentrasi belajar, stamina, dan dalam jangka panjang, menghambat pertumbuhan optimal anak, terutama di daerah yang masih berjuang dengan tantangan stunting.


Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bima, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, mengaku telah menerima aduan tersebut. "Kami mengapresiasi laporan dari masyarakat. Memang ada kendala dalam penyaluran dana dan logistik di beberapa titik, terutama di daerah terpencil. Selain itu, variasi menu yang terbatas juga menjadi pekerjaan rumah kami," ujarnya.


Dijelaskan pula bahwa panduan menu MBG sebenarnya telah disusun, namun penerapannya di lapangan tidak selalu ideal. Faktor anggaran yang ketat, fluktuasi harga bahan pangan lokal, dan kapasitas pengelola dapur di sekolah menjadi tantangan nyata.


Menyikapi hal ini, sejumlah pihak menuntut perbaikan:


1. Peningkatan Pengawasan: Pengawasan yang lebih ketat dari Dinas Pendidikan dan komite sekolah terhadap proses pengadaan, penyiapan, dan penyajian makanan.


2. Penyusunan Menu yang Beragam dan Bergizi: Menyusun menu mingguan yang lebih variatif dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang terjangkau namun bergizi, seperti kacang-kacangan, telur, sayuran hijau, dan buah musiman.


3. Peningkatan Kapasitas Pengelola: Pelatihan bagi petugas dapur sekolah mengenai prinsip gizi seimbang, pengolahan makanan yang sehat, dan manajemen anggaran.


4. Keterlibatan Orang Tua dan Komite Sekolah: Membuka ruang komunikasi untuk masukan dan monitoring bersama terhadap kualitas MBG.


Program MBG memiliki niat mulia untuk mendukung anak sekolah. Namun, niat baik tersebut harus diwujudkan dalam praktik yang konkret dan bermakna. Tanpa komitmen untuk menyajikan makanan yang benar-benar bergizi dan beragam, program ini berisiko hanya menjadi sekadar rutinitas pemberian makan, jauh dari tujuan utama memperbaiki status gizi dan mendukung prestasi belajar anak-anak di Bima, NTB.

TerPopuler