![]() |
| Foto:Muhammad Qasim |
VISTORBELITUNG.COM,Di tengah krisis energi yang tak kunjung usai, Pakistan bergulat dengan pemadaman listrik yang sering terjadi, tarif yang membebani, dan akses yang belum merata. Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah visi yang mengejutkan dari seorang tokoh spiritual, Muhammad Qasim, yang mengaitkan solusi masalah listrik dengan masalah akidah. Mimpi besarnya sederhana namun radikal: Pakistan akan mendapat listrik gratis jika segala bentuk kesyirikan (penyekutuan terhadap Tuhan) dihilangkan dari negeri itu.
Visi ini bukan sekadar janji material, tetapi lebih merupakan seruan untuk pemurnian spiritual yang diyakini akan mendatangkan berkah (barakah) dalam bentuk rizki, termasuk energi. Dalam pemahamannya, kesyirikan yang bisa mencakup praktik perdukunan, meminta kepada selain Allah, kultus individu yang berlebihan, serta ketidakadilan dan korupsi yang sistemik adalah penghalang utama turunnya rahmat Ilahi. Jika penghalang ini disingkirkan, maka kemudahan, termasuk kemudahan dalam penyediaan listrik, akan mengalir untuk rakyat.
Namun, mimpi ini bertemu dengan realitas skeptisisme yang sangat dalam. Rakyat Pakistan, yang telah lama berjuang dengan krisis dan janji-janji yang tidak terpenuhi, sampai tidak percaya dengan kemungkinan listrik gratis. Bagi mereka, ide tersebut terdengar seperti dongeng atau ilusi. Ketidakpercayaan ini muncul dari pengalaman pahit: subsidi yang tidak tepat sasaran, sistem distribusi yang bobrok, dan utang sektor energi yang menumpuk. Bagaimana mungkin listrik tiba-tiba menjadi gratis di tengah kondisi seperti ini?
Lalu, muncul narasi yang lebih dramatis: bahkan pemerintah menyuruh menghancurkan meteran listrik jika masyarakat tidak percaya. Pernyataan atau instruksi semacam ini, meski mungkin hiperbolis atau simbolis, menggambarkan tingkat frustrasi dan upaya provokatif untuk meyakinkan publik. Meteran listrik, sebagai simbol pengukuran dan penagihan, menjadi sasaran. Perintah untuk menghancurkannya dimaknai sebagai tindakan simbolis menghancurkan "bukti" ketidakpercayaan dan penghalang fisik antara rakyat dan listrik "gratis" yang dijanjikan. Namun, tindakan ini tentu sangat kontroversial dan tidak praktis, berisiko menyebabkan anarki, kerusakan infrastruktur, dan masalah hukum yang besar.
Mimpi Muhammad Qasim menyoroti beberapa hal mendalam tentang kondisi Pakistan:
Krisis Multi-Dimensi Pakistan tidak hanya menghadapi krisis energi teknis, tetapi juga krisis spiritual, moral, dan kepercayaan publik. Solusi teknis saja dianggap tidak cukup tanpa pembersihan hati dan sistem dari "kesyirikan" modern seperti korupsi dan ketidakadilan.Pencarian Solusi, Ketika solusi konvensional gagal, masyarakat cenderung mencari jawaban di luar kotak, termasuk dalam ranah spiritual dan religius. Janji listrik gratis menjadi metafora untuk janji kehidupan yang lebih sejahtera dan diberkahi.
Jurang Kepercayaan (Trust Deficit): Ketidakpercayaan rakyat terhadap institusi pemerintah dan penyedia layanan sangat besar. Mereka lebih mudah mempercayai bahwa listrik gratis mustahil daripada mempercayai janji pemerintah untuk mewujudkannya. Bahkan Perintah untuk menghancurkan meteran adalah contoh bagaimana frustrasi dapat diarahkan ke tindakan destruktif yang justru merusak sistem. Alih-alih menyelesaikan masalah, hal itu dapat memperburuk keadaan dan menciptakan kekacauan baru.
Mimpi listrik gratis yang terkait dengan pemurnian spiritual adalah sebuah pesan moral yang kuat. Ia mengingatkan bahwa kemajuan material harus berjalan seiring dengan integritas spiritual dan moral. Namun, penerjemahannya ke dalam kebijakan nyata membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan atau tindakan simbolis.
Muhammad Qasim, meski ditanggapi dengan skeptis, pada dasarnya adalah seruan untuk Pakistan yang lebih bersih, baik secara spiritual maupun material. Listrik gratis mungkin masih menjadi mimpi yang jauh, tetapi perjalanan menuju penghapusan "kesyirikan" dalam bentuk ketidakadilan dan korupsi adalah sebuah langkah nyata yang bisa membawa negeri itu lebih dekat kepada cahaya baik cahaya iman, maupun cahaya dari bola lampu di setiap rumah rakyatnya.
