![]() |
| Foto: China lakukan konsolidasi dengan Iran |
VISTORBELITUNG.COM,Beijing – Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang melumpuhkan jalur pelayaran Selat Hormuz, China dilaporkan melakukan tekanan intensif kepada Teheran, baik secara publik maupun di belakang layar. Langkah ini dilakukan Beijing untuk memastikan keamanan jalur energi vital tersebut dan menjamin kelancaran pasokan minyak serta gas alam cair (LNG) yang sangat dibutuhkan oleh ekonomi terbesar kedua di dunia itu .
Selat Hormuz, yang terletak strategis antara Iran dan Oman, merupakan jalur laut tersempit sekaligus menjadi arteri energi paling kritis di dunia. Sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia dan sejumlah besar ekspor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab harus melewati selat ini . Namun, sejak akhir pekan lalu, operasi militer besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel memicu serangan balasan dari Iran, menyebabkan lalu lintas kapal tanker minyak di kawasan tersebut praktis terhenti .
Situasi ini menjadi pukulan telak bagi China. Data menunjukkan bahwa pada bulan Desember lalu, hampir separuh dari impor minyak mentah China bertransit melalui Selat Hormuz. Selain minyak, China juga menggantungkan pasokan LNG-nya pada kawasan Teluk, dengan Qatar saja memasok sekitar 30% dari total kebutuhan LNG China
Menanggapi krisis ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers rutin di Beijing pada Selasa (3/3/2026) menyampaikan seruan langsung. "China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut, dan menjaga keselamatan navigasi di Selat Hormuz," tegas Mao . Ia menambahkan bahwa keamanan energi sangat penting bagi ekonomi global, dan semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan lancar .
Namun, di luar pernyataan publik yang terukur, China dilaporkan bergerak lebih cepat melalui jalur diplomatik senyap. Mengutip sejumlah eksekutif perusahaan energi milik negara yang mengetahui langsung situasi ini, Pemerintah China secara aktif melobi pejabat tinggi Iran. Desakan utama Beijing agar Teheran tidak menyerang kapal tanker minyak dan LNG yang melintas di Selat Hormuz, serta melindungi pusat-pusat ekspor energi, terutama fasilitas LNG raksasa di Ras Laffan, Qatar .
Kekhawatiran China mencapai puncaknya setelah Iran melancarkan serangan pesawat nirawak (drone) yang menyebabkan Qatar menghentikan total produksi LNG di fasilitas Ras Laffan untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade operasinya. Penghentian ini langsung memicu lonjakan harga gas global dan mengancam kontrak pasokan jangka panjang China dengan Doha .
Dilema China: Mitra Iran, Tergantung Teluk
Situasi ini menempatkan China dalam posisi yang dilematis sekaligus strategis. Di satu sisi, China merupakan mitra dagang utama dan pembeli hampir seluruh minyak Iran, yang menjadi garis hidup ekonomi Teheran di tengah sanksi internasional . Di sisi lain, ketergantungan energi China yang sangat besar justru berasal dari negara-negara Teluk yang menjadi lawan Iran, seperti Arab Saudi dan Qatar .
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, menyatakan dukungan Beijing terhadap upaya Iran mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasionalnya. Namun, Wang Yi juga mengingatkan agar Teheran memperhatikan "kekhawatiran yang wajar" dari negara-negara tetangganya . Pernyataan ini ditafsirkan sebagai sinyal halus agar Iran tidak bertindak ekstrem yang dapat merugikan stabilitas kawasan dan kepentingan ekonomi China.
Dampak dari krisis ini sudah terasa luas. Lembaga pelayaran Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sejumlah insiden di perairan tersebut, dengan setidaknya empat kapal komersial dilaporkan rusak . Perusahaan pelayaran menghentikan transit, biaya asuransi meroket, dan tarif sewa kapal tanker untuk rute standar dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat .
Selain China, negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, yang mengimpor 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah, dan Malaysia juga mulai merasakan dampaknya dengan imbauan untuk menghindari selat tersebut serta tertahannya puluhan kapal berbendera Jepang di Teluk Persia .
Meskipun krisis ini sangat mengkhawatirkan, para analis menilai ketahanan energi China secara fundamental masih kuat. China memiliki cadangan strategis yang besar, diperkirakan cukup untuk menutupi kebutuhan impor minyak mentah setidaknya selama 90 hari . Selain itu, strategi diversifikasi pasokan China selama bertahun-tahun dengan membangun jalur pipa darat dari Rusia dan Asia Tengah, serta meningkatkan produksi dalam negeri, memberikan bantalan yang signifikan terhadap guncangan pasokan laut .
Namun demikian, dalam jangka pendek, eskalasi konflik yang berkepanjangan di Selat Hormuz akan terus menghantui pasar energi global dan menguji kemampuan diplomasi China dalam menyeimbangkan hubungannya dengan Iran di satu sisi, dan kebutuhan pasokan energi dari negara-negara Teluk di sisi lain.
