![]() |
| Foto:instagram/Verren Ornela |
VISTORBELITUNG.COM,Siapa sangka di balik layar podcast ESCAPE yang penuh diskusi hangat dan mencerahkan, ada perjuangan batin yang begitu berat dialami oleh salah satu host-nya, Verren Ornela. Melalui unggahan di media sosialnya, Verren membuka lembaran kelam perjalanannya saat pertama kali bergabung di ESCAPE sebuah perjuangan melawan kecemasan, kritik publik, dan tekanan untuk menjadi sempurna.
Semua bermula saat episode pertama ESCAPE tayang. Verren mengaku sudah "mengekspektasikan" akan mendapat banyak kritik. Dan benar saja, komentar pedas pun berdatangan. "Veren buang aja gada gunanya," "Najis," "Babii," bahkan "VEREN ANJING" menjadi beberapa komentar yang harus ia hadapi.
Namun yang paling menyakitkan, kritik juga datang dari persepsi publik yang menilai ia terlihat "nyolot", "sok tau", dan defensif selama podcast berlangsung. Teman diskusinya, Raymond, bahkan secara jujur mengatakan bahwa Verren terlihat lebih nyolot dan defensif dibanding biasanya.
Verren pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri: "ak terlihat nyolot yah tadi slama podcast?" Ia pun curhat pada KOI, "ak td ngobrol sama raymond, katanya ak trilhat lbh nyolot kyk defensif gt de."
Yang menarik, Verren tidak sekadar menerima kritik itu lalu bersedih. Ia benar-benar melakukan introspeksi mendalam. Dalam percakapannya dengan KOI, terlihat betapa ia takut menjadi pribadi yang keras dan defensif seperti tokoh kontroversial Bahlil. "ak takut kyk bahlil gt de," tulisnya.
Bahkan dengan nada bercanda, ia meminta KOI untuk "menendangnya" jika ia terlihat nyolot lagi. "kalo ak nyolot Ig tendang aku dong," tulis Verren. Dan dengan gaya khas pertemanan mereka, KOI menjawab, "mulut ajah... ak rela... jelek sifat nyolot... aku pun gak suka."
Inilah momen penting yang menunjukkan bahwa Verren tidak ingin mempertahankan egonya. Ia menyadari bahwa "jelek sifat nyolot" dan ia sendiri pun tidak menyukai sifat itu.
Bukti keseriusan Verren untuk berubah sangat nyata. Untuk episode 4-6 ESCAPE, ia membuat catatan kecil berisi panduan untuk dirinya sendiri agar tidak terlihat nyolot dan lebih bisa mendengarkan. Catatan itu berisi kalimat-kalimat ajaib seperti:
· "aku mau mastiin aku nangkepnya bener"
· "boleh dijelasin lebih detail ga?"
· "oh gitu maksud kamu"
· "aku boleh tanya ya"
· "berarti menurut kamu gitu ya?"
Ia bahkan menuliskan panduan: "TAHAN 2 detik → ulangi → Pertanyaan" dan mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menyela dan tidak memotong pembicaraan.
"I 5 Feb, ESCAPE shoot eps 4-6. dan ak bawa catetan kecil ini selama di podcast aku HAFALIN," tulis Verren.
Saat Berusaha Menjadi Sempurna Justru Membuat Kehilangan Diri
Namun, usaha keras Verren untuk berubah justru membawanya pada masalah baru. Ia merasa "ANEHI... kayak gak jadi diri sendiri." Bahasa yang ia keluarkan terasa kaku dan baku, interaksinya tidak lagi mengalir. Ia terlalu berhati-hati sampai kehilangan spontanitas yang membuatnya "menyenangkan."
"Selesai shooting ESCAPE 4-6. aku berasa ANEH.. kayak gak jadi diri sendiri.. banyak yg notice. semua bahasa yg ak keluarin keliatan baku dan sangat berhati2. Shoot jadi gak flowing banget. kyk yaude aje," ungkapnya.
Puncaknya, dalam kondisi overthinking dan cemas, ia nekat mengirim pesan ke KOI bahwa ia ingin keluar dari ESCAPE. "koi sepertinya ak mutusin buat gak lanjut esc. biar balik settingan awal raymond sama ustad berdua." Reaksi KOI? "APAAN SIH... TADI KAN UDAH AMAN," ditambah emoji tertawa karena tahu Verren sedang labil karena overthinking.
Dalam unggahan Threads-nya, ia menuliskan kalimat yang sangat dalam: "Terkadang berusaha jadi yang terbaik bikin kamu lupa cara jadi menyenangkan."
Verren mengaku, "aku 'trying so hard' jadi orang lain. jaga image dll, berusaha sesuai ekspetasi catetan yg ak bikin. akhirnya aku lupa cara jadi 'menyenangkan' itu gimana, tb tb I LOST MYSELF."
Beruntung, Verren tidak sendirian. Di grup ESCAPE, Raymond dengan bercanda melaporkan situasi ini: "@KOI harus ada raja terakhir nih dari ustadz @Ustad Felix. doi mau resign escape karena ovt ngerasa nyolot on cam. tolong klarifikasi @"
Ustad Felix, KOI, Raymond, dan seluruh tim ESCAPE Putri, Dafa, Sherly, Dimas, Rofi terus mendukung Verren. KOI bahkan mengatakan sesuatu yang sangat berarti: "Kan semalem kita udah ngobrol lebih bagus lw pas nyolot daripada menahan diri ternyata... Udah dibandingin sama sini."
Pesan ini sangat penting: menjadi diri sendiri, lengkap dengan kekurangannya, lebih baik daripada berusaha tampil sempurna tapi kehilangan esensi diri. Tim ESCAPE tidak memintanya menjadi robot tanpa cela, mereka menerima Verren apa adanya.
Setelah semua masalah terobrolkan dan klarifikasi, Verren menyadari bahwa perjalanannya masih panjang. Ia mengaku masih ada overthinking, dan episode 1 memang sudah diprediksi akan menuai kritik. "i do read all the comments masukan buat aku," tulisnya.
Namun di tengah segala kerendahan hatinya, ia menyampaikan pesan yang sangat menyentuh:
"tapi ak minta tolong, JANGAN BENCI ESCAPE ya gara2 aku... karena ustad Felix, Raymond, Koi beneran purely tulus mau sama2 dakwah belajar ttg islam. please tetep nonton escape dan jangan subjektif jadi benci semua escape gara2 aku karena escape pembahasannya banyak yg deep di episode2 berikutnya."
Perjalanan Verren Ornela di ESCAPE adalah cerminan perjuangan banyak orang di era media sosial: bagaimana menghadapi kritik publik, berusaha berubah tanpa kehilangan jati diri, dan menemukan keseimbangan antara menjadi lebih baik dan tetap autentik.
Verren menunjukkan bahwa menjadi dewasa bukan berarti menjadi sempurna tanpa cela. Justru dengan mengakui kekurangan, menerima kritik, berusaha berubah, namun tetap berani menjadi diri sendiri di situlah letak kedewasaan sejati.
Terima kasih Verren untuk kejujuran dan perjuanganmu. Dan terima kasih tim ESCAPE yang selalu mendukung. Kita semua sedang belajar menjadi versi terbaik diri kita, bukan menjadi orang lain.
Selamat menonton ESCAPE, dan mari belajar Islam dengan cara yang mencerahkan bersama Ustad Felix, Raymond, KOI, dan Verren!
